Kopi Mesra Demo Rokok

Kopi Mesra Demo Rokok

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada tahun 1950, ketika Undang-Undang Pokok Kesehatan No.9 dirumuskan pendidikan kesehatan telah dicantumkan pada pasal 3 ayat 2. Pemerintah mulai mencanangkan pentingnya menggerakkan masyarakat dan memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa pemeliharan dan perlindungan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya itu amat penting.

Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari Agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Program Indonesia sehat selanjutnya menjadi program utama pembangunan kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu: 1) penerapan paradigma sehat, 2) penguatan pelayanan kesehatan dan, 3) pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat. Sehingga perlu dilakukan berbagai metode dan media dalam melaksanakan promosi kesehatan yang kesemuanya ditujukan kepada tercapainya keluarga-keluarga sehat.

Media adalah alat yang digunakan dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Media juga disebut sebagai alat peraga karena berfungsi membantu dan memperagakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran. Prinsip pembuatan alat peraga atau media bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui pancaindra (Maulana, 2007).

Media Pendidikan atau Promosi Kesehatan adalah semua saran atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika (TV, radio, komputer, dan sebagainya) dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatan (Notoatmojo, 2010).

Program Promosi Kesehatan Puskesmas Gemaharjo telah ber inovasi dalam mendukung Promosi Kesehatan melalui program “KOPI MESRA DEMO ROKOK” yang difokuskan terhadap masalah kebiasaan merokok sebagai salah satu indikator Keluarga Sehat dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.

Penulis berharap dengan adanya program inovasi “KOPI MESRA DEMO ROKOK” dalam jangka pendek dapat memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat yang ada di wilayah Puskesmas Gemaharjo tentang bahaya rokok dan jangka panjangnya dapat merubah perilaku masyarakat sesuai dengan standart PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

  • Tujuan
  • Tujuan Umum

Tujuan umum dari program “KOPI MESRA DEMO ROKOK” untuk meningkatkan indeks keluarga sehat.

  • Tujuan Khusus
  • Meningkatkan capaian rumah tangga sehat ber- PHBS
  • Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok
  • Menurunkan budaya menyediakan rokok pada acara hajatan
  • Menurunkan jumlah perokok
  • Meningkatkan jumlah keluarga yang terbebas dari asap rokok
  • Perbaikan ekonomi keluarga

BAB II

ISI

  1. Data Permasalahan Kesehatan

Desa Tahunan Baru terletak di wilayah Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Luas wilayah desa ini adalah 509 Ha, yang terdiri dari 4 dusun. Jumlah total penduduk Desa Tahunan Baru adalah 2.784 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 1.349 jiwa dan perempuan 1435 jiwa. Jumlah kepala keluarga (KK) sebesar 928 KK.

Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan, di Desa Tahunan Baru telah dibentuk dan dilaksanakan pelayanan kesehatan dalam bentuk UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat) berupa Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Balita, Pos Pelayanan Terpadu untuk Lanjut Usia (Posyandu Lansia), Posbindu dan Taman Posyandu. Data UKBM di Desa Tahunan Baru adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 UKBM di Desa Tahunan Baru

No. Nama Jumlah Kader (orang)
Posyandu Balita
1. Posyandu Balita Dusun Semanding 5
2. Posyandu Balita Dusun Pinggir 5
3. Posyandu Balita Dusun Sawahan 5
4. Posyandu Balita Dusun Gombang 5
Posyandu Lansia
1. Posyandu Lansia Desa Tahunan Baru 5
Posbindu
1. Posbindu Sehat Mulia 2 Tahunan Baru 5
Taman Posyandu
1. Taman Posyandu Semanding 5

Sumber Data : Profil Desa Siaga Aktif Tahunan Baru, 2018

Desa Tahunan Baru dilayani oleh 2 orang tenaga paramedis yaitu 1 (satu) orang tenaga Bidan Desa dan 1 (satu) orang tenaga Perawat, dan 1 (satu) orang non medis. Ketiga petugas kesehatan ini bernaung dalam institusi Puskesmas Pembantu Tahunan dari Puskesmas Gemaharjo Kecamatan Tegalombo.

Meskipun Desa Tahunan Baru telah terlayani oleh pelayanan kesehatan dengan berbagai aktivitas sedemikian rupa tidak menjadikan desa ini terlepas dari permasalahan kesehatan. Penyakit Tidak menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia, demikian juga di Desa Tahunan Baru. Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan dalam waktu yang bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan.

Di Desa Tahunan Baru pada tahun 2016 ada 231 orang penderita hipertensi, 10 (sepuluh) penderita penyakit jantung, 6 (enam) orang penderita stroke, dan 3 (orang) penderita kanker. Proporsi angka kematian akibat PTM meningkat dari 21% pada tahun 2012 menjadi 50% pada tahun 2016. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah jantung (2 kasus), kanker (3 kasus) dari 10 kematian yang ada.

PTM dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup tidak sehat. Berdasarkan indeks keluarga sehat Desa Tahunan Baru terkategori desa tidak sehat dengan indeks 0,17. Dan capaian PHBS tahun 2016 diperoleh prosentase rumah tangga sehat ber-PHBS di Desa Tahunan Baru adalah sebesar 39% (306 KK) dan indikator capaian terendah adalah tidak merokok di dalam rumah sebesar 38%. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok, gencarnya iklan rokok, serta budaya masyarakat yang terbiasa menyediakan rokok pada acara dan kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat seperti yasinan, jagong bayi/hajatan, pertemuan desa, dan sambatan (kerja bhakti) menyebabkan rumah tangga sehat ber-PHBS sulit mengalami peningkatan.

Sehingga petugas kesehatan merasa perlu untuk melakukan promosi kesehatan yang efektif dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mengendalikan masalah rokok.

  • Karya Inovasi

Pada Tahun 2016 masyarakat Desa Tahunan Baru mengadakan MMD yang di fasilitatori petugas kesehatan (Promkes) dan menentukan indikator PHBS tidak merokok menjadi prioritas masalah Desa Tahunan Baru. Tokoh masyarakat dan kader mengharapkan adanya kegiatan sosialisasi dari petugas kesehatan tentang bahaya rokok kepada masyarakat. Saat itu penyuluhan yang dilakukan hanya sebatas menggunakan materi leaflet dan power point serta menggunakan metode ceramah. Dengan metode ini diperoleh bahwa peserta merasa cepat bosan, mengantuk dan tidak fokus. Materi tidak terserap secara maksimal oleh peserta. Sehingga kesadaran untuk berhenti merokok pun belum muncul. Kalopun ada yang ingin berhenti merokok, hanyalah sebatas angan-angan. Kurangnya kontrol masyarakat berupa aturan yang mengikat maupun motivasi dari keluarga dan lingkungan tidak ada. Sehingga tidak ada dorongan yang positif bagi perokok untuk berhenti merokok.

Atas dasar itu, Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Gemaharjo berinisiatif mengadakan kegiatan Kopi Mesra Demo Rokok. Kopi Mesra Demo Rokok Rokok terdiri dari beberapa kegiatan yang merupakan kolaborasi petugas kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

  1. KOPI MESRA (Kayu Informasi dan Pesan Inovasi Mengucap Say No perokok Aktif/Pasif.

Metode pendidikan kesehatan secara massa dipakai untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik. Sasaran promosi ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya. Dan umumnya pendekatan dengan cara massa tidak secara langsung dan biasanya menggunakan  media. Kopi Mesra bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok, dengan menggunakan papan kayu bekas yang bertuliskan pesan-pesan anti rokok. Dipasang oleh masyarakat di setiap rumah dan di pinggir jalan yang sering dilalui orang.

  • Emo Demo Bahaya Rokok

Emotional Demonstration (Emo Demo) adalah salah satu metode edukasi masyarakat melalui pendekatan baru yang berprinsip bahwa perilaku hanya dapat berubah sebagai respon atas sesuatu yang baru, menantang, mengejutkan atau menarik. Emo Demo menggunakan cara-cara yang bersifat imajinatif dan provokatif untuk mencapai perubahan perilaku dalam bidang kesehatan masyarakat (Laxminarayan, 2006).

Petugas Promkes berusaha menerapkan tehnik emo demo untuk menyampaikan materi Bahaya Rokok kepada masyarakat. Selain memberikan informasi kesehatan juga menggugah emosi yang dimiliki subjek sehingga subjek tersebut akan terdorong niatnya untuk melakukan perubahan perilaku.  Penggabungan ilmu pengetahuan dan kreativitas dalam penyusunan pesan, menjadikan metode ini dapat mentransfer pesan yang lebih mudah diterima sasaran.

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan emo demo ini adalah  15 menit. Kegiatan ini diberikan kepada peserta melalui permainan, demonstrasi dan diskusi.

Disediakan papan bergambar dan bertuliskan nama-nama zat yang terkandung di dalam rokok dan bukan kandungan rokok. Peserta diminta untuk memilih bahan-bahan mana yang terkandung di dalam rokok. Kemudian dibahas satu persatu zat dan kegunaannya, dan menanyakan kepada peserta kira-kira zat-zat tersebut layak tidak ada di dalam tubuh kita.

Kemudian dilanjutkan dengan materi dampak bahaya. Disediakan papan bergambar dan bertuliskan nama-nama penyakit yang ditimbulkan karena merokok. Peserta diminta untuk memilih mana yang termasuk penyakit yang ditimbulkan karena merokok dan mana yang bukan. Dan menanyakan kepada peserta langkah apa seharusnya yang diambil setelah mengetahui bahayanya.

Alat dan bahan yang digunakan adalah botol aqua bekas, tisu, batang rokok, dan korek api. Pertama, lubang botol bekas dilubangi seukuran batang rokok. Pasang batang rokok pada tutup botol yang telah dilubangi, kemudian bakar. Tekan dan lepaskan botol berulang ulang untuk menyedot asap rokok masuk ke dalam botol sampai batang rokok habis. Kemudian buka tutup botol dan tutup kembali menggunakan tisu, jungkirkan botol agar asap di dalam botol menyentuh tisu. Kemudian tunjukkan tisu yang ternoda asap rokok kepada peserta. Diandaikan Tisu itu adalah organ tubuh manusia. Satu batang rokok saja bisa meninggalkan noda di paru, jantung, saluran pernafasan dan organ lain yang dilewatinya, bagaimana jika itu 10 batang setiap hari selama setahun dan bertahun tahun.

Diskusi dilakukan dengan menanyakan apakah ada dari peserta (bapak bapak yang merokok) memiliki keluhan seperti sesak, batuk berkepanjangan, nyeri dada dll. Dan adakah yang memiliki keinginan baik dalam waktu dekat maupun lama untuk berhenti merokok.

Testimoni disampaikan oleh mantan perokok yang hadir tentang alasan berhenti merokok, upaya yang dilakukan untuk berhenti merokok dan tips tips berhenti merokok.

  • PEROKOK JUJUR

Perokok yang sudah memiliki niat atau keinginan untuk berhenti merokok akan dilakukan pendampingan. Mereka akan diberikan beberapa tips cara berhenti merokok dan mereka sendiri yang menentukan cara mana yang lebih mudah untuk diterapkan kepada dirinya. Setiap perokok yang ingin berhenti merokok diminta untuk menyediakan toples/kaleng bekas. Setiap kali perokok berhasil menahan untuk tidak membeli rokok pada hari itu, uang yang semula akan digunakan membeli rokok dimasukkan ke dalam toples. Setiap seminggu sekali kader akan datang ke rumah untuk memantau apakah benar bisa melaksanakan tips berhenti merokok dengan menanyakan kepada keluarga serta mencatat jumlah uang yang terkumpul di dalam toples. Hasil uang yang terkumpul akan diberikan kepada istri untuk belanja kebutuhan sehari hari terutama lauk pauk ataupun dipakai untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Pemantauan kader dicatat pada “Kartu Pantau Rokok”.

  • RAGAT PHBS (Rumah Tangga Sehat ber-PHBS)

Kegiatan survei PHBS dilakukan setiap satu tahun sekali. Rumah tangga yang sudah menerapkan 10 indikator PHBS akan ditandai dengan penempelan sticker “PHBS”. Dan rumah tangga yang anggota keluarganya sudah tidak ada yang merokok juga akan ditempeli sticker “Rumah Bebas Rokok”.  Sticker “Dilarang Merokok” ditempel di setiap ruang tamu warga. Kegiatan ini dilakukan swadaya oleh masyarakat, kerjasama Karang Taruna dan Tim Penggerak PKK.

  • Hasil Kegiatan Inovasi

Kegiatan yang sudah dilaksanakan kurang lebih 2 (dua) tahun ini, telah mendapatkan hasil yaitu :

  1. Peningkatan capaian PHBS di Tatanan Rumah Tangga

Capaian rumah tangga sehat ber-PHBS Desa Tahunan Baru mengalami  peningkatan sebesar 6% (57 KK) di tahun 2018 setelah kegiatan inovasi berjalan. Diantara mereka adalah perokok yang berhasil didampingi untuk berhenti merokok. Selain itu motivasi keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan bagi seorang perokok. Mereka harus punya satu alasan yang kuat mengapa harus berhenti merokok. Dan sebagian besar dari mereka memiliki alasan karena sudah mengalami keluhan penyakit.

  • Peningkatan keluarga yang terbebas dari asap rokok di Desa Tahunan Baru.

Keluarga yang terbebas dari asap rokok mengalami peningkatan sebesar 6% pada tahun 2018 dan 5% pada tahun 2019 (update bulan September).

  • Capaian Indikator Keluarga Sehat Desa Tahunan Baru tahun 2018
No INDIKATOR PROSENTASE
1 Keluarga mengikuti program KB 90,63%
2 Ibu melakukan persalinan di Faskes 100%
3 Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap 100%
4 ASI Eksklusif 100%
5 Balita di DDTK 100%
6 Penderita TB Paru mendapatkan pengobatan sesuai standar 100%
7 Penderita Hipertensi berobat teratur 1,42%
8 Gangguan jiwa berobat teratur 75%
9 Anggota keluarga tidak merokok 40,4%
10 Keluarga sudah menjadi anggota BPJS 45,02%
11 Keluarga mempunyai akses air bersih 98,76%
12 Keluarga mempunyai akses jamban sehat 86,49%
  • Kelompok Yasinan yang sudah tidak lagi menyediakan rokok mengalami peningkatan sebesar 75% pada tahun 2018.
  • Tingkat Kepuasan menggunakan emo demo mengalami peningkatan yakni 100% menyatakan “PUAS”. Peserta penyuluhan lebih suka menerima materi bahaya rokok dengan menggunakan emo demo daripada penyuluhan dengan metode ceramah menggunakan leaflet.
  • Melestarikan budaya gotong royong yang ada di masyarakat.

Masyarakat secara swadaya bersama sama membuat tulisan pesan dan slogan kesehatan anti rokok yang dipasang di setiap rumah dan di pinggir jalan. Kader secara mandiri melakukan pemantauan kepada perokok yang ingin berhenti merokok.

  • Ibu-ibu/istri semakin bisa memotivasi suami untuk berhenti merokok. Membantu suami mengingatkan kapan jadwal harus mengurangi rokok.

BAB III

RENCANA TINDAK LANJUT

  1. Pelatihan Kader

Diperlukannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan kegiatan pemantauan. Selain bisa melakukan pemantauan diharapkan kader juga bisa memberikan motivasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya rokok.

  • Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dilakukan untuk melihat ketepatan sasaran, waktu, tempat, dan petugas pada saat kegiatan berlangsung. Evaluasi dilakukan setiap bulan sekali bersamaan dengan arisan kader untuk melihat sejauh mana perubahan para perokok yang didampingi dan efektivitas kegiatan inovasi.

  • Komitmen Pemangku Kepentingan

Dibutuhkannya komitmen Kepala Desa untuk memberlakukan perdes dan menerapkan sanksi bagi masyarakat yang melanggar. Tokoh masyarakan dan Tim Penggerak PKK senantiasa menggerakkan partisipasi masyarakat untuk hidup sehat tanpa rokok dengan mengadakan kegiatan lomba PHBS dan Lomba Rumah Bebas Rokok.

  • Peluang Replikasi

Inovasi Kopi Mesra Demo Rokok sangat memungkinkan untuk direplikasi di dusun atau desa yang lain. Sangat efektif untuk meningkatkan capaian rumah tangga sehat ber-PHBS dan tentunya indeks keluarga sehat. Peningkatan capaian saat ini mungkin belum bisa sesuai target, namun bukan tidak mungkin jika kegiatan dilakukan secara terus menerus, dua sampai tiga tahun yang akan datang akan bisa melampaui target itu. Tahun 2019 ini, sudah di replikasi di Desa Gemaharjo dengan kegiatan Kelas Pendampingan Perokok Jujur. Para perokok jujur bertemu dan mendapatkan materi yang berbeda setiap bulannya. Materi yang diberikan antara lain sebagai berikut:

Pertemuan Materi
1 Mengenal lebih jauh kandungan rokok
2 Motivasi dan Tips Berhenti Merokok Dari  Mantan Perokok
3 Tes Kebugaran
4 Gizi Seimbang untuk Perokok
5 Pemeriksaan Kesehatan
6 Nonton film bareng “Gara-gara Rokok”

Di Desa Tahunan, membuat “Pojok Ngudut”, yang letaknya berada di atas bukit mengandung filosofi ‘kangelan ngrokok, mangkane lerenono anggonmu ngrokok”. Warga yang ingin merokok harus menuju ke bukit ngudut, jika ingin merokok.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai, mula-mula hanya akan ada orang yang sudah mengalami keluhan penyakitlah yang memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Namun satu orang yang berhenti merokok itu bisa menyelamatkan 3 nyawa anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama perokok. Apalagi jika anggota keluarga tersebut ada yang berusia balita dan anak-anak yang masa depan mereka masih panjang.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian terdahulu maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kegiatan Emo Demo Bahaya Rokok telah berhasil meningkatkan kepuasan masyarakat tentang metode edukasi bahaya rokok sebesar 100%
  2. Kegiatan Kopi Mesra demo rokok berhasil meningkatkan capaian PHBS menjadi sebesar 48%.
  3. Capaian indikator tidak ada anggota keluarga yang merokok dalam 12 indikator keluarga sehat di Desa Tahunan Baru sebesar 40,4%
  4. 75% kelompok yasinan di Desa Tahunan Baru sudah tidak lagi menyediakan rokok termasuk acara jagong bayi, dan pertemuan desa lainnya.
  5. Anggaran keluarga lebih efisien karena keluarga menjadi memiliki simpanan dari uang rokok.
  6. Terjadi peningkatan keluarga yang terbebas dari asap rokok di Desa Tahunan Baru pada tahun 2018 yaitu sebesar 445 keluarga.
  • Saran
  • Diperlukannya dukungan kepala desa berupa penerapan regulasi larangan merokok di dalam rumah dan tempat yasinan serta dukungan pembiayaan demi keberlanjutan program inovasi ini.
  • Diperlukannya dukungan Perangkat,  tokoh masyarakat, TP. PKK Desa dan kader untuk menggerakkan partispasi masyarakat dalam rangka mewujudkan desa tanpa asap rokok.
  • Diperlukannya kerjasama lintas program terutama program PTM untuk berkolaborasi mengatasi persoalan asap rokok.
  • Diperlukannya dukungan keluarga terutama istri untuk memotivasi anggota keluarga yang ingin berhenti merokok. Begitu juga dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat membantu perokok untuk berhenti merokok.

BAB V

PENUTUP

Demikian makalah kami yang berjudul Intervensi Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga melalui kegiatan Inovasi Kopi Mesra Demo Rokok dalam meningkatkan kesadaran masyarakat hidup sehat tanpa rokok Desa Tahunan Baru, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Semoga dengan sedikit deskripsi ini dapat memberikan gambaran tentang pentingnya metode edukasi atau penyampian pesan kesehatan yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Semoga Allah swt meridhoi setiap aktivitas kita. Aamiin..

About the author

adminpuskesmas administrator

Leave a Reply