Monthly Archive April 2019

EMO DEMO BAHAYA ROKOK DI POS UKK DUSUN GEMAH

 

Rabo, 24 April 2019

Pembinaan di Pos UKK Sapi Perah Dusun Gemah.

Berbeda dengan kegiatan rutin biasanya yang dilakukan pemeriksaan kesehatan kepada semua pekerja anggota Pos UKK, kali ini diisi dengan wayangan tentang bahaya rokok. Kegiatan ditutup dengan diskusi dan wawancara dengan masing2 peserta.

Dari hasil wawancara, hampir semua diantara mereka memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Dan Sebagian diantara mereka sudah memiliki keluhan penyakit (sesak, batuk berdahak dll).

Yuup… YAKINLAH… bahwa asap rokok itu benar benar membahayakan kesehatan. Dampak Rokok tidak akan timbul satu atau 2 hari setelah Anda merokok. Tapi Dampak penyakit akan timbul 10-20 tahun yang akan datang. Ketika dampak itu timbul tidak sedikit biaya yang akan dikeluarkan untuk pengobatan.

So…
STOP ROKOK…. yess… yess… yess

PENTINGNYA TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH ( TPA )

TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI SETIAP KECAMATAN, MUNGKINKAH..?

Tulisan dalam foto ini sudah sebulan lebih terpasang di….

Sepintas tidak ada yang istimewa dari tulisan tersebut, namun jika diamati dan dianalisa kita akan temukan beberapa hal.

  1. Kepedulian masyarakat

Mungkin tempat dibawah “poster” itu sudah lama digunakan sebagai tempat sampah, kalau dihitung mungkin sudah ratusan ton. Cuma dalam rentang waktu itu belum mengusik kesadaran masyarakat. Buang sampah di jurang pinggir kali itu masih dianggap hal yang lumrah. Kemunculan poster itu menjadi tengara adanya ketidak nyamanan dan keresahan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat. Sekaligus sebagai tanda munculnya kesadaran tentang bahaya pencemaran lingkungan. Hal yang sangat positif yang harus diapresiasi.

  1. Tidak/belum adanya system pengelolaan sampah yang memadai.

Ketersediaan lahan adalah statis, sementara pertumbuhan populasi manusia plus seabrek aktifitasnya sangatlah dinamis. Dulu persediaan lahan untuk membuang sampah bukan suatu masalah, lahan pekarangan masing-masing rumah masih teramat cukup untuk sekedar “menetralkan”sampah yang ada. Namun kini daya tamping lahan sudah tak sanggup lagi menyangga beban yang begitu berat. Gemaharjo sebagai tempat transit dengan aktifitas kulinernya tentu juga menghasilkan efek samping sampah yang tidak sedikit. Disisi lain tak semua pemilik rumah makan punya lahan yang cukup untuk membuang sampah mereka. Belum lagi ada pasar juga di Gemaharjo yang merupakan produsen sampah dengan volume lumayan besar. Akhirnya banyak yang kemudian mengambil jalan pintas membuang sampah di tepi sungai, tanpa memperdulikan bahaya terhadap lingkungan.

Lalu bagaimana solusinya…?

Tidak mudah memang mengurai kemasalahan yang sedemikian ruwet akan tetapi jika tidak difikirkan sejak sekarang masalah ini akan semakin hari semakin serius. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi bom waktu.

Pemanfaatan sampah memang bisa sedikit mengurangi volume sampah yang ada, akan tetapi jumlah sampah yang bisa termanfaatkan kembali jauh sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah sampah yang ada, sehingga masih terlalu banyak sampah yang harus dikelola.

Sebetulnya sudah pernah ada pemikiran bahkan uji coba untuk membawa sampah dari Gemaharjo ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Dadapan. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, mungkin karena biaya opersional yang lumayan besar.

Mungkin perlu difikirkan pengadaan TPA disetiap Kecamatan sehingga pengelolaan sampah bisa berlangsung dengan biaya operasional yang lebih ringan.

Mungkin pemikiran ini masih perlu dikaji oleh berbagai sector terkait, akan tetapi tidak boleh terlalu lama sebelum persoalan sampah ini menjadi semakin menggurita.